
The Pack dari film Awaydays. foto: dok. Istimewa
|
|
Feature
THE BRITS ON THE SCREEN!
28/10/2009 Memasuki kuartal terakhir 2009, ada 3 film Inggris yang masuk dalam movie review trax, ketiganya menggambarkan tipikal perjalanan musik dan budaya di Inggris dari jaman ke jaman. Mau tahu seperti apa filmnya? Better check these out! oleh Wahyu Nugroho

Hey, mr.producer!
Sebuah drama yang menyingkap sosok fenomena unik di musik era 60a-an.
Telstar
Con O’Neill, Kevin Spacey, Carl Barat
G2 Pictures
BAGI kalian yang tidak kenal dengan sosok Joe Meek, nampaknya kalian harus menonton film ini. Joe Meek adalah sosok songwriter, produser rekaman yang terkenal di era 60-an dengan sederet tembang hit yang dibidaninya, dari “Have I The Right” yang dipopulerkan oleh The Honeycombs, “Just Like Eddie” oleh Geoff Goddard, “Johnny Remember Me”-nya John Leyton, dan “Telstar”-nya The Tornados, yang menjadi judul film ini. Tanpa menceritakan masa kecilnya, film ini diawali dengan perkenalan Meek dengan Geoff Goddard [Tom Burke] di tahun 1961 sampai pada cerita keadaan di sekitar peristiwa kematiannya yang aneh di tahun 1967.

Film ini juga bercerita tentang fenomena pop dan rock ‘n roll awal di London selama kurun waktu 60-an yang sedang tumbuh, semua kegilaan dari beragam wajah baru dan lagu hit yang hadir di pergulatan industri musik di Inggris, salah satunya adalah The Tornados, band yang sukses dengan single pertama, “Telstar” yang meraih berhasil posisi puncak tangga lagu Billboard Hot 100 di US.
Selain mengcapture semua aspek rock and roll awal di Inggris era 60-an, film drama ini juga menyajikan sisi personal sang produser [yang diperankan Con O’Neill] sebagai sosok gay yang flamboyan dan buta nada, which is make this producer looks like a perfectly unique person to watch. Di film ini, Kevin Spacey [American Beauty, Superman Returns, Recount] bermain sebagai Major Banks dan kamu bisa menemukan Carl Barat, frontman Dirty Pretty Things dan gitaris The Libertines, yang bermain sebagai biduan terkenal, Gene Vincent. Dibesut oleh sutradara Nick Moran [Lock, Stock, and Two Smoking Barrels] Sangat cocok untuk dinikmati di saat liburan bersama teman-teman se-band, ya hitung-hitung menambah pengetahuan di bidang musik atau hanya sekedar mencari referensi.

the rockin' boat
Satu kapal, delapan DJ ilegal, di tengah lautan, rock 'n roll.
The Boat That Rocked
Phillip Seymour Hoffman, Tom Sturridge, Tom Wilson
[Universal Pictures]
BAGAIMANA ketika semua orang dengan mudah bisa membuat radio-nya sendiri? Tentunya banyak hal seru yang terjadi, dari siaran tiada sensor, airplay semuanya, dan lain sebagainya. Persis seperti yang terjadi di film ini. Dikemas dalam energi komedi yang dijamin bakal mengocok perut, The Boat That Rocked adalah sebuah gambaran fiksi tentang stasiun radio ilegal di North Sea di tahun 1966, tahun dimana BBC, satu-satunya stasiun radio berlisensi hanya memainkan musik selama 2 jam di tiap minggunya. Dari sini hadir Rock Radio, radio yang khusus menyiarkan musik rock 24 jam nonstop dari atas kapal di tengah laut di Inggris.

Dihost oleh 8 disc-jockey dengan beragam style, Rock Radio langsung mendapat respon dari jutaan orang, khususnya anak muda. Well, pastinya, When it comes to an illegal-thing, pasti semuanya jadi menyenangkan. Lewat bertumpuk-tumpuk piringan hitam, mereka bisa memutar lagu rock 'n roll sepuasnya. Quentin [Bill Nighy], bos radio ini bersama the Count [Phillip Seymour Hoffman], salah satu yang bersinar, serta Gavin [Rhys Ifans], dan beberapa DJ terbaiknya, menjadi 'Tuhan'-nya dari jutaan pendengarnya. Di hari-hari siarannya, ada banyak bumbu yang memberi rasa film ini, dari kisah cinta sampai beragam konflik, termasuk salah satunya konflik dengan pemerintah di Inggris. Sebuah film yang dijamin bakal mengocok perutmu.

football, drugs, rock 'n roll
all you can see about friendship, blood, drugs and football.
Awaydays
Nicky Bell, Liam Boyle, Stephen Graham
[Optimum Releasing]
SEBUAH film yang ditunggu-tunggu bagi penikmat film dunia, khususnya Inggris. Sebuah potret yang diambil dari novel klasik karya Kevin Sampson. Tentang cerita anak muda berumur 19 tahun bernama Paul Carty [Nicky Bell], anak muda; karyawan sipil yang menghabiskan waktu dan uangnya di club, menonton konser, membeli rekaman dan menonton bola.

Paul Carty hanyalah anak muda yang biasa dengan kehidupan masyarakat kelas menengah yang mungkin dirasanya jenuh, namun tidak sampai ia bertemu dengan Elvis [Liam Boyle] disebuah pertandingan, hidupnya pun berubah. Elvis sendiri adalah bagian dari gang legendaris, The Pack, yang adalah kelompok pendukung dari klab sepakbola asal Birkenhead, Tranmere Rover F.C. Dengan gaya mereka yang unik, dari tampilan fashion dari kaus Fred Perry, Lois Jeans, sepatu Adidas Forest Hills trainers serta hoody yang tipis menarik perhatian Carty.
Carty pun bertemu kesekian kalinya dengan Elvis di sebuah gig Echo and The Bunnymen. Mereka menjadi akrab dan ini membuka jalan bagi Carty untuk bisa gabung ke The Pack. Namun bergabung dengan The Pack tidak seindah yang dibayangkan. Ia pun terjebak dalam dunia kelam penuh dengan kerusuhan, darah dan narkoba.
Liar, seksi dan lucu, tiga kata yang tepat menggambarkan hubungan Carty dan Elvis, juga keseluruhan film ini. Sebuah film yang memotret sedikit kehidupan masa muda akhir 70-an yang mencari identitas kedewasaan. Diiringi oleh energi dari band-band postpunk macam Joy Division, Echo and The Bunnymen, Ultravox, The Cure sampai The Rascals. Pastikan kamu nggak melewatkan film ini karena menurut sejarah, Awaydays adalah film layar lebar pertama yang menampilkan setting dan munculnya fesyen kasual sepakbola.
Seperti sebuah perpaduan yang cantik dari Quadrophenia, Control, This Is England, Trainspotting dan Catcher In the Rye, Awaydays benar-benar menampilkan hooliganisme dan babarianisme dalam bentuk yang fun.
Comments! |
|
|
| |
|